Relawan.Net

Jaringan Relawan Indonesia

Relawan dan Social Entrepreneurship

Berkembangnya semangat menjadi relawan di Indonesia terutama terjadi setelah reformasi tahun 1998. Ketika masyarakat lebih terbuka dan bebas melakukan kegiatan maka dorongan untuk dapat saling membantu di dalam masyarakat yang selama ini tenggelam mulai bermunculan. Di picu  dengan situasi bencana alam dan bencana manusia(kerusuhan) yang di alami Indonesia maka semangat dan kesadaran untuk melakukan perubahan terus bermunculan.

Sejak tahun 1999 hingga sekarang praktis muncul kegiatan swadaya masyarakat baik secara individual dan kelompok yang ingin berkontribusi melakukan perubahan social, dari yang sederhana hingga yang kompleks, dari yang membutuhkan dana yang kecil hingga yang besar.

Kegiatan yang bersifat relawan tentunya suatu hal baru dalam masyarakat Indonesia, walaupun secara kultur kegiatan relawan adalah kegiatan gotong royong yang telah lama mengakar dalam budaya Indonesia. Jika dalam kegiatan gotong royong adalah sebuah kegiatan yang sifatnya ‘merespon suatu masalah’ sehingga bersifat incidental maka kegiatan relawan yang muncul saat ini sifatnya jangka panjang sesuai dengan misi individu atau kelompok untuk melakukan visi perubahan social di bidang yang di pilihnya. Sehingga kegiatan relawan ini membutuhkan manajemen yang profesional untuk dapat mencapai tujuannya.

Di belahan dunia lain, seorang pribadi yang bernama Muhammad Yunus telah sukses melakukan sebuah kegiatan bisnis yang bersifat social karena kegiatan ini tidak semata-mata menjalankan  fungsi bisnis tapi juga menjaga fungsi sosialnya. Kegiatan yang dilakukannya mampu mengubah paradigma yang berkembangkan selama ini bahwa ketika meminjamkan dana untuk usaha kepada masyarakat miskin maka dana tersebut kemungkinan besar tidak kembali, tetapi Yunus justru membuktkan sebaliknya.

Kegiatan seperti yang dilakukan Muhamad Yunus inilah  yang mendorong munculnya istilah baru yaitu Social Entrepreneur.

Pengertian sederhana dari Social Entrepreneur adalah seseorang yang mengerti permasalahan sosial dan menggunakan kemampuan entrepreneurship untuk melakukan perubahan sosial (social change), terutama meliputi bidang kesejahteraan (welfare), pendidikan dan kesehatan (healthcare). Jika business entrepreneurs mengukur keberhasilan dari kinerja keuangannya (keuntungan ataupun pendapatan) maka social entrepreneur keberhasilannya diukur dari
manfaat yang dirasakan oleh masyarakat

Setyanto P Santoso dalam makalah yang disampaikan pada FE Brawijaya tanggal 14 Mei 2007 mengemukakan :

“Social Entrepreneur sesungguhnya adalah agen perubahan (change agent) yang mampu untuk :
•Melaksanakan cita-cita mengubah dan memperbaiki nilai-nilai sosial
•Menemu kenali berbagai peluang untuk melakukan perbaikan
•Selalu melibatkan diri dalam proses inovasi, adaptasi, pembelajaran yang terus menerus
•Bertindak tanpa menghiraukan berbagai hambatan atau keterbatasan yang dihadapinya
•Memiliki akuntabilitas dalam mempertanggungjawabkan hasil yang dicapainya, kepada masyarakat.

Yang menggembirakan bahwa akhir-akhir ini adalah terjadinya pergeseran social entrepreneurship yang semula dianggap merupakan kegiatan ”non-profit” (antara lain melalui kegiatan amal) menjadi kegiatan yang berorientasi bisnis (entrepreneurial private-sector business activities). Keberhasilan legendaris dari Grameen Bank dan Grameen Phone di Bangladesh adalah salah satu contoh terjadinya pergeseran orientasi dalam menjalankan program social
entrepereneurship. Hal ini menjadi daya tarik bagi dunia bisnis untuk turut serta dalam kegiatan social entrepreneurship, karena ternyata dapat menghasilkan keuntungan finansial. Social Entrepreneurship saat ini berada dipersimpangan jalan antara non-profit dan organisasi murni bisnis”

Lalu, apakah konsep Social Entrepreneurship adalah sebuah titik temu antara kegiatan relawan yang professional dengan kegiatan bisnis yang bersifat sosial ataukah hanyalah sebuah kapitalisme murni yang bersembunyi dalam wajah sosialnya? Saya kira selama fungsi bisnis mampu mendorong melakukan perubahan sosial menjadikan dunia  yang lebih baik bagi kehidupan manusia, mengapa tidak. Sehingga istilah yang  tepat dan terbuka menurut saya untuk Social Entrepreurhsip adalah bisnis sosial, yaitu bisnis yang mampu mendorong perubahan sosial menjadi masyarakat yang lebih baik dan sejahtera.

(Andre Birowo).

Relawan.net akan online kembali

Setelah Sempat Vakum cukup lama maka Relawan.net akan segera Online dengan wajah baru dalam dunia yang terus berubah.

Andre Birowo